Chapter Text
Trigger Warning: Prostitution, mention of BDSM, mention of involuntary harm, terminal illness (not main couple).
‘Pewaris Konglomerat Ketahuan di Klub BDSM’ - JianghuNews.com
Matanya berpinar-pinar membaca laporan koran online itu. Ponselnya dilempar asal-asalan ke meja Hua Yong. Jantungnya nyaris meledak karena terlalu kaget dan malu besar. Jasnya awal-awal sudah dilepas dari bahu lebar lantaran hatinya panas terbakar.
“Wenlang, tenanglah. Wajahmu tak kelihatan, kok. Anggap saja kau berbuat kebajikan. Inikan bisa jadi promo gratis untuk perusahaan ku.” Pemuda rupawan itu tersenyum sinis.
Sahabatnya terperangah.
Dasar Hua Yong! Ketus batinnya.
Dasi hitam ditarik kasar sambil kaki lampainya tak henti mundar mandir. Kuku jempol dengan manicure sempurna jadi korban di antara barisan gigi putih.
“Memang benar wajahku tak kelihatan, tapi berapa ramai orang di bandar ini yang punya Bugatti Ungu? Itukan kelihatan di fotonya!” Pemuda itu tak bisa ditenangkan.
“Kalau pakai pintu belakang juga tak menjamin privasiku… aku butuh solusi lain, Hua Yong.”
Sahabat di depannya terlihat kusut. Citra bersih dan tampan yang dibawanya berantakan hanya dengan satu headline koran yang bahkan tidak mempamerkan wajah dan namanya. Klub ini tempat Shen Wenlang menumpahkan kekacauan jiwanya selama bertahun-tahun.
“Aku butuh seseorang untuk tinggal bersamaku.”
“Wenlang…” Kening lentik Hua Yong melengkung tajam.
“Hal itu sudah tiga tahun berlalu, aku lebih waspada sekarang. Hua Yong…”
Waspada… tapi masih buas… batin si marga Hua.
Wajah temannya dipandang saksama. Meskipun mereka berteman sejak kecil, ada hal-hal tentang Wenlang yang Hua Yong harus hati-hati. Terutama terkait ‘karyawan’nya.
“Oke aku ngerti… tapi aku tak bisa janji cepat atau lambat. Aku butuh waktu untuk mencari yang sepadan denganmu. Kau butuh seseorang yang benar-benar bisa memenuhi keperluanmu. So for the time being, you have to hold your own fort.”
Kata-kata teman itu tidak melegakan hatinya, namun ia tahu Hua Yong tak pernah mengecewakan. Pemuda itu satu-satunya orang yang mengenal dirinya luar dalam.
Habis.
Ini bisa memicu siklusnya.
Rumah Sakit Heci
Punggung Gao Tu menempel di kursi putih yang tersusun sepanjang lorong setapak Unit Onkologi. Adiknya sedang tidur dirawat inap setelah habis pemeriksaan rutinitas. Jari jemarinya terasa dingin beku membaca kertas putih itu. Tes sel darah putih Gao Qing melonjak lagi.
Apa aku harus kembali ke tempat itu… Batinnya.
Membesarkan seorang adik sendirian tanpa orang tua, hatinya telah terasuh sekeras baja.
Pekerjaan itu sudah lama ditinggalkan sejak Gao Qing remission tiga tahun lalu. Semenjak itu, Gao Tu hanya menampung hidup mereka berdua dengan kerja sebagai mekanik di bengkel motor sport dan superbike berdekatan sirkuit Grand Prix (GP) ternama. Penghasilannya di bengkel tidak semewah tempat itu, tapi tetap cukup karena tidak perlu menampung bil perawatan medis lagi.
Ponsel model lama dengan skrin pecah dikeluarkan. Loudspeaker nya malah sudah rusak. Untuk seketika jarinya ragu-ragu mengetik nomor itu. Tona bip di telinga seolah mengatur napas mengganti paru-paru nya.
“Hello, Madam Hua? Ini- Gao Tu.” suaranya terbata.
“Gao Tu! Apa kabar, manisku?” panggilan disambut mesra.
“Madam Hua, aku butuh uang…,” Ujar Gao Tu tanpa basa-basi.
“Adikmu? Hmmm… datanglah malam ini.”
Ponselnya disimpan kembali ke saku celana dengan pundak berat. Jaket kulitnya disarungkan ke tubuh lalu ia berjalan menuju parkir depan rumah sakit Heci dimana Kelincinya menunggu. Langit malam itu sedikit mendung. Gao Tu hanya mampu berharap bisa tiba ke tempat itu sebelum jalan dibasahi hujan, ban motornya seharusnya ditukar dua minggu lalu namun ia belum punya ongkos untuk itu.
Madam Hua’s Love Nest
Kelinci Gao Tu berhenti perlahan di hadapan klub eksklusif Hua Yong, Superbike Honda Fireblade keluaran 1992. Saking sayangnya Gao Tu pada mesin itu, diberikannya nama Kelinci.
Ia tiba lambat dari jam yang dijanjikan karena gerimis mulai turun waktu di jalan. Bouncer bertubuh besar sudah diberi tahu akan kehadirannya. Pengawal itu hanya mengangguk tanpa kata dan menurunkan penghadang tali merah dari cangkok dinding sambil mempersilahkannya melewati pintu masuk.
Lantai utama klub itu telah banyak berubah setelah tiga tahun ditinggalkan. Sangkar-sangkar besar dengan penari menggiurkan menghiasi pentas di aula utama menggantikan dekorasi ala burlesque. Namun pengunjungnya masih lumayan berduyun. Pemuda itu mendongak ke lantai dua dimana pemilik yang dipanggil Madam Hua itu sudah menantinya di railing besi berkilat.
Menaiki tangga khas ke kantor pemilik klub rasanya begitu asing tapi juga familiar. Ia pertama kali diusung ke klub ini saat usianya terlalu mentah atas keterdesakan hidup. Disini ia belajar bahwa nafsu serakah punya banyak wajah. Ada manusia yang lembut namun penuh kepalsuan, dan ada yang jujur tapi hanya tahu melukakan.
Madam Hua menyambutnya dengan pelukan hangat lalu menarik tangannya untuk duduk di sofa yang sudah bertukar.
“Gao Tu… kamu makin ganteng. Bagaimana kerjanya di bengkel?” Punggungnya dielus lembut.
Meski terlihat dingin, pemuda itu punya tempat istimewa di hati Hua Yong.
“Kerjaku disana baik-baik saja. Cuma… sekarang aku butuh uang untuk perawatan A Qing. Kali ini biayanya lebih besar.” Suaranya retak diujung lidah.
“Aku turut berduka atas berita adikmu, tapi sepertinya… nasib sedang menyebelahimu.”
Kepala Gao Tu miring keheranan.
“Aku punya klien yang membutuhkan seseorang tinggal bersamanya. Atas alasan privasi, dia tak bisa berkunjung ke sini. Klien ini bukan sembarangan, dia teman kecilku. Dan dia lebih dari mampu untuk membayar berapapun harga yang kamu mau.”
Namun saat itu, bukan harganya yang dipikirkan Gao Tu.
“Tinggal bersama… artinya?” Gao Tu meletakkan helm full-face di meja kopi.
“Yah… tinggal di rumahnya. Setiap malam melainkan malam minggu. Itu hari cutimu.”
“Setiap malam?! Apa itu artinya aku harus ‘berkerja’ setiap malam?” Pemuda itu terkesima. Bibir merekahnya digigit tanpa sadar. Gestur menggoda yang telah lama jadi kebiasaan.
“Detailnya bisa diatur. Jangan khawatir, nanti aku minta Chang Yu draft kan kontrak kalian. Tapi Gao Tu, kamu harus tahu satu hal.”
“Apa itu?”
“Temanku punya satu tantangan. Dia… kecanduan seks. Ada beberapa hal yang bisa memicu siklus kecanduannya. Kamu harus siap. Do your research.”
Gao Tu terdiam mendengar kata-kata itu. Ini bukan tantangan enteng. Gao Tu sudah pernah menghadapi bermacam ragam manusia, namun tak ada satu pun dari kliennya dulu yang punya kondisi seperti ini.
“Aku tidak tahu ini kebetulan atau apa, kamu tau aku tak pernah percaya pada takdir. Tapi kalau ada satu orang yang aku bisa percayakan untuk dikirim ke temanku… itu adalah kamu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu pintar melindungi dirimu.”
“Madam percayakan dia?”
“Aku percaya dia, tapi tetap kamu harus waspada.”
“Sekarang pulang dulu. Pikirkan sehabis baik. Kalau masih mau meneruskan niatmu, hubungi aku. Nanti aku atur pertemuannya.”
Gao Tu mengangguk. Helm hitam diambil kembali sebelum berlalu pergi. Namun sebelum kantor Madam Hua ditinggalkan, hatinya sudah memutuskan. Ia tak punya pilihan.
Rumah Besar Shen
Ponselnya berdering saat ia baru keluar dari kamar mandi. Bukan karena Shen Wenlang baru siap mandi. Tubuhnya malah kering dari ujung rambut sampai ujung kaki. Namun handuk-handuk bersih di ruangan itu habis dilempar ke lantai dan disuruh ulang cuci. Katanya bau deterjen yang dipakai terlalu menyengat hidung. Sudah satu minggu para pembantu kewalahan meladeni urusan rumah tangga yang semuanya terlihat salah di mata tuan rumah.
“Hua Yong! Bagaimana?”
“Sudah ku dapatkan calonnya. Kapan kau punya kelapangan?”
“Tiga hari lagi. Nanti aku kabarkan ke Chang Yu jam berapa.”
“Aku sudah kirim file nya ke surel mu. Dibaca dulu.”
“Baik.”
“And Wenlang… don't screw this up.”
Menunggu tiga hari untuk Wenlang seperti menunggu langit terbelah, tapi dia tak punya celah untuk gegabah. Tiga hari itu dimanfaatkan untuk mencari tahu tentang calon yang dibicarakan Hua Yong. Detail yang dikirim ke emailnya hanya tak seberapa.
Sepertinya anak itu memang butuh uang. Adiknya gerah di rumah sakit. Usianya baru menginjak 27. Tiga tahun lebih muda dari dirinya. Sekolahnya hanya sampai SMA meski keputusan peperiksaan nya bagus sekali. Seharusnya ia bisa ke uni atau setidaknya D3.
Orang tua pemuda itu tidak ditemukan di mana-mana. Urusan terkait orang tua adalah garis privasi yang Wenlang kira tidak pantas dilewati. Namun dirinya tetap penasaran.
Madam Hua’s Love Nest
Lift itu luas berdinding cermin. Dibelakangnya sepasang pria bercumbuan tanpa mempedulikan Gao Tu di situ. Refleksi dirinya di cermin terlihat kemas. Ia mengenakan jaket kulit sederhana yang biasa digayakan pemuda.
Narsisistik tidak termasuk dalam kepincangan personalitinya. Namun bergelumang dalam dunia ini mengajarkan bahwa semakin kau cantik semakin kau dipandang berharga. Apalagi, usia Gao Tu sudah menghampiri angka 27. Ia bisa dikira terlalu tua. Gao Tu harus memikat klien ini dengan semua ketrampilan yang ia punya.
Hari itu rambutnya di rias rapi tapi hanya disisir dengan jari. Efek asal-asalan menambah garis ketampanannya. Effortless beauty.
Sebelum kembali di klub, Gao Tu menghabiskan waktu tersisa setelah pulang dari bengkel dengan membuat riset terkait kondisi klien itu. Gao Qing sempat curiga. Bukan kebiasaan untuk kakaknya terlalu lalai dengan ponsel.
Sementara menunggu hari janji temu, Gao Tu pergi ke klinik khas melakukan tes STD dengan biayanya ditanggung Madam Hua.
Meski ia tidak pernah berkencan atau berhubungan badan sepanjang tiga tahun ini, laporan itu adalah rutin yang dibutuhkan bagi menjamin keamanan kedua pihak. Bahkan di klub itu, klien juga diwajibkan menyerahkan tes STD sebelum bisa mendapatkan apapun khidmat yang diinginkan.
Memasuki ruang kerja Madam Hua, Gao Tu sedikit tersentak melihat seorang klien sudah menempati kursi sofa.
“Maaf, saya kira Madam Hua bilang jam 8.” Gao Tu melirik jam di pergelangan. Masih ada 10 menit sebelum waktu yang dijanjikan.
“Tidak apa-apa. Klien nya kepincut dengan fotomu. Perkenalkan, ini Shen Wenlang.”
Pipinya terasa panas.
Klien di depannya mengulurkan tangan. Gao Tu menjabat tangan itu dengan genggaman penuh percaya diri. Seperti ada saklar otomatis dalam tubuhnya yang menyalakan persona seorang sub. Wajahnya tegak lurus, namun matanya tertunduk sopan dengan bulu mata lentik.
“Gao Tu.” Ujarnya ringkas. Sorot matanya masih ditundukkan.
“Kamu bisa memandangku sebebasnya. Kontrak kita belum dimitrai. Anggap saja kita mencari kenalan baru.”
Kenalan baru… huh! Kenapa tak bilang one-night-stand saja? sinisnya sebatas hati.
Shen Wenlang menelan ludah. Temannya benar, ia kepincut. Foto yang dikirim Hua Yong malah tak sebanding dengan tuan empunya badan.
Bibir bentuk hati yang merah alami mengulas senyum sederhana. Jaket kulit pemuda itu dilepas dari pundak terbuka dan ditaruh ke sisi. Garis ototnya… lumayan tapi tak keterlaluan. Pemuda itu hanya mengenakan singlet putih, menampakkan bayang dua puncak dada. Kakinya bersarung jeans lusuh sedikit robek di atas lutut. Pinggang ramping itu terlihat begitu pas dalam rangkulannya. Batang tubuh itu ditelanjangkan oleh mata rakus Wenlang.
Seluruh pandangannya menyempit dan tertumpu ke tubuh itu. Tekstur puncak dada itu seolah asin di papila lidahnya.
“Ayo, mari duduk. Chang Yu, bawakan hardcopy.” Fantasinya terbuyar oleh suara Hua Yong.
Berkas transparan bertukar tangan dan diletakkan di atas meja kopi, dua salinan setiap satunya untuk Gao Tu dan Wenlang.
“Ini draft kontrak kalian, dibaca dulu detailnya. Nanti bisa diedit lagi jika ada yang mau diubah.”
Kertas putih itu terasa sarat di tangan Gao Tu, bukan karena beratnya tapi karena isinya. Ia tidak pernah menangani kerjaan sebegini. Kata-kata yang tercetak di lembaran itu dibaca satu per satu. Matanya terbelalak melihat angka yang ditawarkan.
“Ini- bukan salah ketik?” Gao Tu tertegun.
“Kenapa?” Tanya Wenlang santai.
“10,000 yuan?!”
“1000 yuan untuk setiap jam, sepuluh jam setiap malam. Saya kira itu cukup setimpal.” Klien itu menyilangkan kaki panjangnya.
“Setimpal?! Ini berlebihan. Mana bisa tubuh saya dipakai sampai 10 jam tanpa jeda. Tuan Shen harusnya cari robot aja.” Kening pemuda itu berkerut khawatir.
Komentar itu disambut oleh senyum geli.
“Saya juga bukan robot. Gak mungkin saya butuh jasa kamu 10 jam tanpa henti. Tapi kamu akan tinggal di kediaman yang saya tetapkan. Itu adalah waktu kamu yang saya beli. Waktu yang seharusnya bisa kamu gunakan untuk apapun.”
Mulut pemuda itu ternganga.
Kontrak itu kembali dicermati. Ia tidak melihat daftar aktivitas dan alat-alat yang akan digunakan, membuat Gao Tu tambah curiga. Jika upahnya saja sampai 1000 yuan satu jam, seberat apa scene yang harus dilewati…
“Daftar peralatan kenapa gak ada?”
“Itu memang aku tinggalkan kosong, untuk kalian sepakati sendiri.” Celah Madam Hua sambil memandang Wenlang.
“Saya tak punya kebiasaan aneh seperti water sport ataupun scat. Bagi saya itu menjatuhkan martabat pasangan. Apapun scene kita, yang paling penting Sub saya harus selamat dan nyaman. Kalau kamu punya hal-hal yang tak bisa ditoleransi, katakan saja.”
Gao Tu mencari kepastian pada wajah Madam Hua nya. Pemuda cantik itu mengangguk perlahan.
“Saya tak bisa dengan kerangkeng, juga tak bisa ditinggalkan atau sengaja diabaikan waktu dalam mindset submissive. Banyak klien sebelum ini yang memanfaatkan fakta ini untuk menghukum saya tanpa alasan.” riak wajahnya terlihat getir.
“Hua Yong, masukkan semua daftar hal-hal yang tak disukai Gao Tu dalam draft kontrak.” Teman itu mengangguk kecil.
Gao Tu sedikit tersentuh dengan gestur itu meski ia tak menjanjikan apapun. Namun ada satu hal yang masih membuatnya khawatir. Kebanyakan Dom membenci hakikat dan bukti bahwa Sub kepunyaan mereka pernah dimiliki dan diperlakukan oleh orang lain. Gao Tu harus jujur meski kesepakatan ini bisa terbatal sebelum dimulai.
“Tuan Shen, ada lagi satu hal… tubuh saya… ermm…,” tatapan lurusnya jatuh, rasa ‘kurang’ itu sering menghentak sifat percaya dirinya.
“Tunjukkan.” Ujar klien itu tegas.
Gao Tu berpaling supaya punggungnya menghadap klien itu. Dada pemuda kecil itu gugup. Singlet putih ditanggalkan perlahan. Napas klien itu jelas tercekat di corong telinganya. Ia merasakan jari-jari hangat menyentuh lembut parut panjang yang menyerong dari belikat kanan sampai ke rusuk kiri.
Hati Shen Wenlang terbakar melihat parut itu. Siapa saja yang tega melukakan tubuh Sub sampai begini sekali.
“Hua Yong! Kau biarkan ini terjadi?!”
“Bukan salah Madam Hua.” Gao Tu membalas sebelum pemilik klub itu sempat bersuara.
“Waktu itu Gao Tu masih baru disini. Ia terlalu kaget saat kata sandinya diabaikan. Mujur saja pengawal malam itu bertindak cepat. Jika tidak lukanya bisa jadi lebih parah.” Meski sudah bertahun, kekesalan itu masih berbekas di hati Hua Yong.
Gao Tu hanya berpaling dan menyarung singletnya kembali. Matanya terpejam rapat. Hatinya pasrah menunggu penolakan yang tak terhindarkan. Tangannya diraih lembut sambil kuku-kuku runcingnya diamati. Telapak tangannya kapalan hasil kerja di bengkel. Lutut pemuda itu bergeser ke paha klien tanpa sengaja.
“Hua Yong bilang kamu kerja di bengkel.”
“Iya…”
“Pastikan kukunya bersih setiap kali pulang kerja. Kamu bisa membersihkan diri di apartemen yang saya sediakan.”
Kepalanya sontak terangkat.
“Tuan masih maukan saya?!” Kening Gao Tu bertaut oleh rasa aneh.
“Tentu. Kamu Sub yang sempurna di mata saya.” Hati Gao Tu menghangat namun rasa itu dibenam dalam-dalam. Terlalu awal untuk membuat kesimpulan apapun.
Janji temu itu diteruskan dengan melengkapkan detail kontrak. Sesi diskusi berlangsung lancar dan professional.
Di matanya, Shen Wenlang juga terlihat seperti Dom yang sempurna. Namun masa silam mengajarkannya untuk tidak mudah percaya dengan apa yang terlihat pada kasat mata. Dunia di balik bayangan ini penuh dengan topeng-topeng yang menutupi sisi keji manusia. Tak ada namanya puas kalau menyangkut nafsu manusia.
Setelah hatinya lapang dengan kesepakatan yang didapatkan, Gao Tu meminta izin untuk pulang duluan. Ia sudah berjanji menemani Gao Qing di rumah sakit malam itu. Amplop putih ditinggalkan di atas meja Hua Yong sebelum berlalu pergi.
“Apa itu Gao Tu?”
“Test STD. Negatif.”
Hua Yong menepuk jidat. Saking khawatirkan pertemuan itu, pemilik itu melupakan prosedur paling mustahak sebelum menyuguhkan draft kontrak.
Sejujurnya Hua Yong juga ragu-ragu mempertemukan mereka. Perasaannya seperti menjodohkan kelinci kecil dengan serigala jadian. Hua Yong sadar jika Shen Wenlang hilang kendali lagi, kali ini dia benar-benar tak akan bisa menghentikannya.
